Cara agar tidak kecanduan Medsos

Beginilah cara agar kamu tidak kecanduan media sosial

 Memang tak bisa dimungkiri kalau teknologi dan media sosial telah merevolusi cara manusia berkomunikasi dan bersosialisasi. Tak hanya banyak digunakan oleh generasi milenial saja, platform media sosial kini juga banyak kok digunakan berbagai kalangan dengan usia yang beragam. Sebutsaja Facebook, Twitter, hingga Instagram, yang penggunanya mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Bahkan, ada pula mereka yang telah berusia di atas 50 tahun aktif menggunakan media sosial di atas. Ada yang salah? Enggak kok. Hanya saja, penggunanya mesti bijak dalam menggunakan media sosial. Sebab, enggak sedikit orang-orang yang kecanduan media sosial hingga menimbulkan berbagai masalah dalam kehidupannya. Lalu, bagaimana sih cara mengatasi kecanduan media sosial?

Berikut cara mengatasinya, yuk simak baik baik

 

1. Perbanyak sosialisasi di kehidupan nyata 


Tak ada salahnya berkomunikasi via media sosial yang menyediakan fitur seperti Face Time. Namun, bila cara berkomunikasi seperti ini yang sering kamu pilih, maka ada baiknya untuk berpikir ulang. Sekali lagi, enggak ada salahnya kok menggunakan fitur seperti Face Time. Akan tetapi, lebih baik berhubungan secara face to face, benarkan? Sebab, bersosialisasi dalam kehidupan nyata jauh lebih memiliki banyak manfaat.


Ketika kamu berhadapan dengan seseorang secara langsung, tak ada tembok besar yang memisahkan kamu dan lawan bicaranya. Dengan begitu, kalian berdua bisa berkomunikasi lebih intim, bebas, dan pastinya lebih menyenangkan.


2. Batasi penggunaannya


Hal yang satu ini bisa menjadi cara terampuh agar terhindar dari kecanduan media sosial. Cobalah batasi waktu yang kamu habiskan di media sosial tiap harinya. Kamu bisa kok menggunakan alarm atau stopwatch untuk mengontrol penggunaan media sosial. Kata ahili, ketika dirimu sudah terbiasa membatasi waktu yang digunakan di media sosial, kamu pun pada akhimya bisa mengatur diri sendiri untuk tidak ketergantungan terhadap platform tersebut.


3. Cari kegiatan yang lebih bermanfaat


Bila kamu merasa dirimu telah kecanduan media sosial, segeralah cari kegiatan lainnya yang bermanfaat. Tujuannya untuk mengurangi intensitas selama berselancar di dunia maya tersebut. Semakin sibuk dirimu menghabiskan waktu di kegiatan lainnya, maka semakin dirimu tak ada waktu untuk terpaku pada media sosial.


Kamu bisa kok mengalihkan perhatian ke olahraga, sekadar berkumpul bersama keluarga, ataupun dengan teman-teman terdekat. Kamu juga bisa mencoba hobi atau aktivitas baru yang menyenangkan bersama teman-teman. Ingat, menghabiskan waktu berjam-jam di dunia maya bisa membuatmu bergantung pada teknologi dan kurang bersosialisasi.


4. Gunakan secara bijak



Bukan berarti mengurangi waktu di media sosial menjadikan media sosial adalah suatu hal yang buruk. Namun, bila menggunakannya secara bijak, ada manfaat lainnya yang bisa kamu dapatkan. Enggak cuma itu, kamu juga bisa merasa lebih nyaman bila menggunakan media sosial dengan cerdas. Ingat, bagaimana media sosial berdampak itu tergantung bagaimana dirimu menggunakannya.


Misalnya, kamu sebenarnya enggak perlu memiliki semua jenis media sosial. Alternatifnya, kamu bisa kok untuk aktif di media sosial yang memang sering kamu gunakan. Sebab, semakin banyak media sosial yang dimiliki, maka semakin banyak pula waktu yang akan kamu habiskan di dunia maya


5. Fokus ke orang di sekelilingmu



Ketika ngobrol bersama sahabat, teman kantor, ataupun keluarga secara langsung, fokuskanlah dirimu terhadap mereka. Pendek kata, simpan rapat-rapat smartphone-mu di tas atau tempat lainnya. Ingat, yang mereka butuhkan bukan sekadar kehadiran, tetapi juga energi positif yang kamu berikan kepada mereka. 


Rasanya mungkin amat menjengkelkan mengobrol dengan seseorang yang asyik memainkan media sosial di gadget-nya. Setuju? Oleh sebab itu, bila kamu tak ingin diperlakukan seperti itu, maka cobalah hargai lawan bicara dengan memfokuskan segala perhatianmu kepada dirinya.


6. Matikan notifikasi


Cara yang satu ini juga enggak kalah ampuh untuk mencegah kecanduan media sosial. Dengan mematikan notifikasi, dirimu akan lebih fokus mengerjakan tugas atau hal lainnya yang sedang kamu kerjakan.


Sumber:https://www.halodoc.com/6-cara-mengatasi-kecanduan-media-sosial- diunduh tanggal 5 september 2019 13:45 WIB


Saat Remaja Tak Bisa Kendalikan Diri di Media Sosial



Kehidupan dalam genggaman sosial manusia di era internet ini dapat dikatakan semakin mudah. Keberadaan tidak media terpisahkansosial oleh jarak. Jarak ribuan membuat kilometer interaksi yang memisahkan antara satu orang bukanlah dengan penghalang yang lainnya bagi bak manusia untuk saling terhubung satu sama lain.


tersebut dengan Menurut Hootsuite, terungkap penelitian terdapat bahwa yang total 130 dilakukan populasi juta jiwa We Indonesia orang Are Social Indonesia yang "Digital kini yang Around mencapai aktif di The media 265,4 World sosial. juta 2019" jiwa, Dalam bekerja setengah laporansamadi


Indonesia antaranya Apabila adalah telah dilihat menggunakan pengguna dari angka media tersebut internet, sosial. maka yaitu Hasil sebanyak dapat penelitian dikatakan 132,7 We Are juta.bahwa Social seluruh menyebutkan pengguna dari internet 132,7 jutadi


pengguna internet di Indonesia, 130 juta di antaranya adalah pengguna aktif di media sosial dengan penetrasi mencapai 49%. Angka itu juga berarti bahwa lebih dari separuh populasi di Indonesia telah melek media sosial.


Pesatnya penggunaan media sosial telah memengaruhi cara berpikir kita terhadap teman, kenalan, serta orang asing. Selama ini kita memiliki jaringan sosial yang terdiri atas keluarga dan teman dalam lingkaran sosial. Kehadiran media sosial dalam lingkup teknologi membuat jaringan sosial tersebut menjadi membesar dan berbeda dibanding sebelumnya.


Media sosial membuat orang "masuk" ke dalam jaringan tersebut dengan cara yang sangat mudah dan cakupan yang lebih luas. Salah satu perbedaan terbesar antara jaringan sosial tradisional dengan media sosial adalah batasan-batasan antara ruang privat dengan publik, antara sekolah dengan rumah atau pekerjaan dengan rumah, menjadi kabur.


Hubungan antar manusia yang kian mendekat kendati jarak dipisahkan hingga ribuan kilometer antara satu dengan yang lainnya juga memiliki efek negatif. Seperti kasus penganiayaan yang barubaru ini terjadi terhadap siswi SMP bernama Audrey di Pontianak, Kalimantan Barat. Audrey dikeroyok dan mengalami penganiayaan oleh sejumlah siswi SMA yang diduga dipicu masalah asmara dan saling balas komentar di media sosial. 


Bahkan Presiden Joko Widodo merasa khawatir dengan kasus perundungan yang terjadi karena media sosial ini. "Yang pasti adalah, kita sedang menghadapi masalah perubahan pola interaksi sosial antarmasyarakat melalui media sosial. Kita sedang dalam masa transisi pola interaksi sosial itu, hendaknya lebih berhati-hati," kata Jokowi dalam akun Instagram, @jokowi, Rabu (10/4/2019).


Sementara itu pada medio Desember 2018, seorang pelajar SMP di Bekasi dikeroyok empat orang pelajar lainnya setelah saling ejek di media sosial. Hal yang mirip juga terjadi pada November 2018 di Kolong Tol Deplu Raya, Bintaro, Jakarta Selatan. Satu korban tewas setelah dua kelompok pelajar saling tantang untuk berduel di Instagram.


Sementara pada Maret 2019 lalu, Amir Hamdani (17) meninggal. Amir meninggal setelah sebelumnya bertengkar dengan MR di media sosial Facebook. Selain Audrey dan Amir, ada Amir dan Audrey lain yang menjadi korban media sosial dari kalangan remaja di berbagai penjuru Tanah Air.


Berdasarkan penelitian "Social media as a vector for youth violence: A review of the literature", pada beberapa tahun terakhir internet dan media sosial telah menjadi "fasilitator" terhadap kekerasan anak dan remaja. Media sosial telah menjadi alat bagi anak muda untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap teman-temannya, seperti perundungan (bullying), pelecehan, serta kejahatan terkait geng. Media sosial juga menjadi alat untuk melukai diri sendiri, yang paling utama adalah bunuh diri siber.


Remaja masa kini adalah pengguna aktif dari media sosial, seperti Facebook, Twitter atau Instagram.







Komentar